Kematian Bukanlah Duka, Tapi Pulang Ke Kampung Ilahi

Oleh: Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

                                                                                  Ketika berbicara kematian, kita perlu mendengar cerita-cerita orang yang menjelang wafat. Kita boleh mempunyai rencana apa saja dalam hidup, tapi semua rencana itu belum tentu terlaksana. Tidak ada yang bisa mengalahkan kepastian kecuali mati. Sebab hidup tidak ada yang berbicara paling pasti, kecuali mati.

Banyak sekali dalam Al Quran dan Al Hadits yang mengingatkan kita tanda-tanda orang beriman, nasehat yang paling luar biasa itu mati. Misalnya dalam Al Quran itu maut dikaitkan dengan wafat, akan disempurnakan upahnya. Jadi, bagi orang yang bekerja  keras, banyak ibadahnya ketika datang di hari wafat itu menjadi hari wisuda, hari panen. Kalau yang ditanam pagi makan yang dipanen itu padi.

Bagi orang mukmin, bila ada orang yang meninggal tidak tepat disebut rumah duka. Karena siapa yang berduka? Yang berduka itu orang  yang ditinggal, tetapi yang meninggal sangat berbahagia. Karena disempurnakan upah yang dijanjikan Allah SWT.

Bagi orang mukmin kalah ada orang yang meninggal, disebut rumah duka sesungguhnya tidak tepat. Karena siapa yang berduka? Yang duka itu yang ditinggal, tetapi yang meninggal sangat berbahagia. Mengapa? Karena disempurnakan upah yang dijanjikan.

Dibanyak ayat Al Quran berbicara kematian, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan [3], mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini [datangnya] dari sisi kamu [Muhammad]” (QS Annisa:78).

Diantara kita ada yang lulus ketika diuji dengan penderitaan, kadang-kadang tidak lulus ketika diuji dengan kenikmatan hidup. Maka Al Quran mengingatkan, hati-hati ujian itu tidak selalu adalah orang yang menderita, tidak kalah bahayanya ketika diuji itu dicoba dengan kenikmatan.

Dalam Islam ucapan untuk orang yang meninggal, innalillahiwainnailaihirojiun (Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kita semua akan berpulang kepadanNya). Kalimat ini indah sekali, ketika para ulama mengatakan, bahwa ketika wafat itu tiba datangnya hari bahagia. Ibarat para petani akan menikmati hasil panen.

Bayangkan, kalau kita sebagai pekerja, hari yang ditunggu-tunggu adalah ketika tanggal gajian tiba. Jadi, kebahagian bagi orang yang meninggal itu, karena upahnya akan dilunasi. Itulah sebabnya, para ulama mengajarkan jangan takut meninggal.

Dalam hidup ini, peristiwan apa yang paling ditunggu-tunggu? Yaitu peristiwa pulang. Yang repot mau pulang tapi tidak tahu jalannya, tidak punya kendaraan. Bagi orang mukmin kaitannya dengan Iman. Kendaraan itu adalah amal kebaikan.

Masih ingat, ketika dulu kita sekolah, ada pengumuman,”Anak-anak hari ini Bapak dan Ibu Guru mau rapat. Anak-anak pulang lebih awal.” Bagaimana jawabnya? “Horeeeee..” Begitu pula ketika usai menunaikan ibadah haji badan terasa capai, begitu ada pengumuman akan pulang. Langsung yang capai menjadi segar kembali. Naik pesawat lemas kembali, dan ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta kembali sehat. Langsung berpakaian haji lupa dengan rasa capainya. Karena apa? Karena pulang ke rumah.

Jadi pulang itu menggembirakan. Mengapa anak-anak sangat rindu kepada ibunya, karena kita pernah tinggal di alam rahim sang ibu. Rahim itu adalah asma Allah, Kasih Sayang dan asma itu dilekatkan pada sang ibu.

Ketika kita berada di alam rahim, terasa tenang dan damai. Semua makanan yang terpenuhi. Kenangannya begitu indah sekali. Maka siapapun ada kerinduan dengan rahim ibu. Padahal rahim ibu itu dibandingkan kasih sayang Allah sangat kecil, tidak ada apa-apanya.

Sekarang, berapa kali kita menelepon atau sms kepada orang yang dicintai? Begitu pula kita menyebut asma Allah setiap hari. Asma Allah yang sering kita sebutkan, Arrahman Arrahim.

Allah itu paling senang, dari sekian asma Allah yang disebut bismillahirrahmaanirrahim (Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang).  Seperti Almarhum H. Abdul Razaq yang selalu menyebut arrahman arrahim, sekarang sudah meninggalkan kita.

Pantaskan ketika beliau meninggal disebut hari duka? Kita yakin, justru almarhum pulang ke kampung Ilahi yang dirindukan, pasti lebih bahagia.

Orang mukmin ketika meninggal itu sangat bergembira. Mengapa? Karena semakin dekat kepada Allah yang selalu dirindukan itu. Wajahnya sangat berseri-seri ketika menjelang meninggal karena berharap panggilan Allah yang kita cintai.

Dari hasil survey yang saya lakukan, mengapa orang yang akan meninggal itu terlihat sehat? Karena walaupun  badannya sakit tetapi ruh nya yang sehat. Ruhnya itu ditemani malaikat dan amal-amalnya. Makanya, orang yang biasa shalat walaupun sakit ketika waktu shalat tiba ia melaksanakan shalat.

Mengapa kita dianjurkan untuk membiasakan berdzikir? Karena nanti ketika meninggal, ruhani kita itu ibarat komputer, adalah flashdisk yang menyimpan amalan kita yang menayangkan di layar komputer. Ada pelajaran hidup yang perlu kita renungkan.

Sebuah peritiwa ketika ada orang yang sakit tengah menghadapi sakaratul maut. Kemudian teman-temannya menengoknya, tapi oleh anaknya tidak boleh menengok orang tuanya. Rupanya orang tua nya itu, dalam keadaan tidak sadar omongannya itu memalukan di dengar telinga, umpat sana umpat sini. Mengapa? Karena rekaman di dalam pikirannya yang jorok.

Tapi bagi ahli dzikir yang keluar ketika sakaratul maut yang keluar kalimat-kalimat toyyiba. Dalam keadaan tidak sadar rekamannya muncul. Jadi, para ulama sangat menganjurkan untuk berdzikir, karena nanti ketika kita tidak sadar dzikir itu yang menemani kita.

Ada kebahagian bagi ruh ketika terlepas dari jasad kita, bila dilepas dengan ikhlas dan doa. Mengapa? Ibarat kita bepergian, yang membuat kita bahagia dilepas dengan cinta, ikhlas dan doa. Perginya tenang hingga sampai tujuan.

Kemudian lunasi semua utang almarhum. Jika kita sayang kepada orangtua yang meninggal, janganlah kenikmatan di akhirat sana terganggu oleh ahli waris yang meributkan warisannya.

Orang yang panjang umurnya walau usianya pendek karena amalnya yang banyak. Sebaliknya walau usianya panjang tapi amalnya sedikit, itu umurnya pendek. Almarhum, walau sudah meninggal tapi umurnya masih berlanjut, karena anak yang soleh, ilmu yang bermanfaat, amal jariah. (hsn)

*) Tausiyah Acara 7 hari wafatnya ayahanda almarhum H. Abdul Razak bin Guru KH Muhammad Ku’in sekaligus Haul ke 11 Kakek, Guru KH. Muhammad Tarmun bin H. Saibin berlangsung khusu dihadiri para kiai, habaib dan Sekab RI Dipo Alam di Masjid At Taubah Jalan Kebon Nanas Selatan 3, Jakarta Timur. Pada hari Ahad, 30 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: