Fiqih Wanita: Karena Islam Memahami Wanita

Sebab banyak umat Islam yang belum mengetahui apakah air yang suci, tapi terkena najis apakah boleh dipakai untuk bersuci.

taklim muslimah

KAUM wanita saat ini harus mengerti apa itu ilmu fiqih. Dalam ajaran Islam fiqih adalah ilmu yang dapat menyempurnakan ibadah kita sehari-hari.

Tentang air, misalnya, apabila dalam keadaan darurat karena tidak ada air tetapi kita hanya mempunyai air segelas dan kita dalam posisi kehausan, tetapi kita harus berwudhu karena waktu shalat sudah tiba. Apa yag harus didahulukan?

“Air itu lebih baik diminum, sedangkan wudhu bisa digantikan dengan tayamum (bersuci dengan debu),” ujar Dosen IIQ, Ustadzah Hj. Amirah A. Nahrawi, Lc, ME pada acara Taklim Perdana Muslimah Yayasan Majelis Al Washiyyah di Masjid Attaubah, Jl. Kebon Nanas Selatan lll No.12-14A Otista lll Jak Timur, Kamis malam (6/6/2013).

Puteri dari KH Drs A Nahrawi Abdus Salam menjelaskan mengenai hukum air yang suci dan mensucikan. Sebab banyak umat Islam yang belum mengetahui apakah air yang suci, tapi terkena najis apakah boleh dipakai untuk bersuci.

“Bagaimana pula hukumnya dengan air yang mengalir seperti air sungai apakah bisa untuk berwudhu, sedangkan di sungai tersebut banyak orang yang membuang hajat,” kata pengurua MUI Pusat.

Menurutnya, air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Tetapi jiika tercemar yang bisa merubah rasa, warna dan aroma membuat air sungai jadi najis.

“Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu, mandi atau membersihkan najis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hj Amirah mengatakan, kaum wanita terutama ibu-ibu sering bertanya-tanya kepada, apakah mereka boleh menjadi imam untuk anak laki-laki yang sudah dewasa, tapi belum hapal baca Al Quran untuk bisa menjadi imam shalat di rumah.

Ia menjelaskan, tentang wanita tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki tersebut berdasarkan pada Hadits Rasulullah. “Perempuan janganlah dijadikan imam sedang makmumnya laki-laki.” (HR. Ibnu Majjah)

Sedangkan kaum wanita menjadi imam atas kaum wanita, katanya, ulama fikih membolehkan karena alasan persamaan derajat dalam shalat.

“Lebih-lebih bahwa ketentuan pembolehan ini sudah banyak diriwayatkan dari sejak permulaan Islam,” ungkapnya.

Bahwa Rasulallah SAW pernah mengunjungi (Ummu Waraqah) di rumahnya, dan menunjuk seorang muadzin yang melakukan azan untuknya, dan memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam (shalat) bagi seisi rumahnya. (HR. Abu Daud).

“Dengan mengetahui silsilah dan mendalami hidup dan kehidupan tentang riwayat para Nabi terutama Nabi Muhammad SAW, semakin tinggi kecintaan kita dalam mempelajari Al Quran dan Al Hadits,” pungkasnya.

http://dunia-islam.pelitaonline.com/news/2013/06/07/fiqih-wanita-karena-islam-memahami-wanita#.UbGd7736KEa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: