Manusia: Species Yang Sempurna

Oleh: KH. Mohamad Hidayat

MANUSIA adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat sempurna dan yang paling unik di antara makhluk ciptaanNya. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS Attiin:5).

Ukuran kesempurnaan manusia bukan saja tercermin dari bentuk tubuh dan wajah yang proporsional, namun tercermin pula dari keberadaan akal dan hati yang dia miliki, sehingga mampu berpikir, menganalisis dan mengetahui seluruh al Asma (nama-nama) yang ada di alam semesta (QS Al Baqarah: 31). Kekhususan inilah menjadikan manusia dipilih oleh Allah SWT sebagai Khalifah (pemimpin) di bumi.

Namun demikian, kesempurnaan manusia sebagai khalifah bukan berarti tidak memiliki kelemahan sama sekali. Banyak dalil al Qur’an yang menyatakan demikian, di antara sifat-sifat lemah tersebut antara lain: mudah lelah, lemah, tergesa-gesa, suka membantah, melampaui batas, keluh kesah, kikir, zalim, kufur nikmat, berkekurangan dan banyak lagi sifat lemah lainnya.

Wanita Shalehah: Perhiasan Dunia Terindah.

Bersyukurlah kamu wanita yang telah hidup pada fase zaman sekarang ini. Dalam pandangan bangsa-bansa terdahulu di dunia (Yunani, Romawi, Persia, Cina, India, Yahudi, Kristen dan Arab Jahiliyah) wanita adalah spesies hina, rendah dan murah, tidak ubahnya seperti budak atau sekadar pelayan pria. Bahkan lebih sadis lagi wanita dianggap alat maksiat, sebagai pemuas nafsu atau barang yang diperdagangkan.

Ketika Islam hadir menjadi pedoman hidup manusia, terangkatlah derajat wanita menjadi sosok yang terhormat dan dilindungi. Mereka memiliki andil besar dalam memberikan perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik. Andil mereka bukan saja dalam naungan keluarga, tetapi juga pada tingkat masyarakt dan negara tanpa meninggalkan fitrah kesucian, keindahan dan kecantikannya.Rasulullah SAW bersabda” “Dunia adalah hiasan, dan hiasan terbaik adalah wanita shalehah” (HR Muslim).

Memulai dari Inner Beauty

Inner beauty adalah suatu pancaran atau aura keindahan manusia yang bersumber dari inti karakternya. Inner berauty merupakan produk yang diperoleh dari kecantikan jiwa. Seorang wanita yang senantiada berzikir (mengingat Allah) dan menjalankan nilai-nilai ibadah secara benar, kontinyu, dan konsisten maka akan terbentuklah struktur jiwa yang kokoh lagi indah. Shalat yang ditunaikan dengan benar misalnya akan memancarkan jiwa yang sehat, raga yang kuat adan pancaran wajah yang bercahaya memikat. “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS Al Ahzab:29).

Wanita bertaqwa akan mampu menampilkan pribadi serta prilaku yang cantik dalam kesehariannya. Ia dapat menjalin interaksi yang harmonis baik interaksi yang bersifat vertikal (hubungan dengan Sang Pencipta) maupun yang bersifat horisontal (hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya). Iman, ilmu dan ibadah menjadi pilar yang kuat bagi terciptanya karakter wanita yang ber inner beauty.

Pancaran Kecantikan Dimotori dari Hati

Cantik dan menarik menurut pandangan Allah SWT memiliki kualifikasi yang khusus. Cantik, menarik dan aroma inner beauty dalam Islam berawal dari konsep takwa, sebagaimana firman Allah: “Dan pakaian takwa itulah yang paling baik” (QS Al A’raf: 26).

Dimanakah letak takwa itu?

Rasulullah SAW memberi tahu kepada kita bahwa takwa itu ada pada dada seseorang, yaitu “hati”. Ketika Rasul ditanyakan oleh sahabat tentang takwa, maka dengan tegas beliau menunjuk pada dadanya dan berkata “Takwa itu ada di sini.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Pengendali penuh dari tabiat manusia adalah hati. Rasulullah SAW bersabda,” Ingatlah bahwa pada diri manusia ada segumlah daging. Apabila gumpalan daging itu baik maka baiklah seluruh anggota daging itu baik maka baiklah seluruh anggota tubuhnya dan apabila gumpalan daging itu jelek maka jeleklah seluruh anggota tubuhnya. Ingatlah itu adalah hati.” (HR Bukhari).

Outer/Cover Beauty

Hal yang patut disadari oleh wanita adalah, agama tidak hanya menuntut inner beauty namun juga mendorong “outer/cover beauty”. Kaum wanita kerap tidak menyadari betapa indahnya bentuk tubuh, wajah, indera dan jiwa mereka. Islam mengajak setiap kaum wanita untuk menjaga dan menumbuh kembangkan kecantikan yang diberikan Allah SWT itu. Hal ini sangatlah jelas dan sistematik diperintahkan melalui berbagai komponen ajarannya seperti Thaharah (tatacara bersuci), Nazhalah (menjaga kebersihan), Shihhah (kesehatan) dan jamalah (keindahan). Perhatikanlah ajaran tentang khitan (sunat), berwudhu, mandi junud (mandi hadst besar). Beristinja (bersuci dari buar air besar & kecil), bersiwak (menggosok gigi), anjuran ihlak (bercolak mata), ta”athur (berparfum), memotong kuku secara rutin, hingga menutup aurat dengan libaas (berpakaian) indah & bagus. Bukanlah semua yang menjadi ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam tesebut sebagai prasarana membangun “outer/cover beauty” ?

Agama Menuntut Wanita “Cantik Paripurna”

Ada sebuah hadits yang menarik. Menurut Rasulullah SAW tampoil cantik di hadapan suami merupakan syarat utama dari 3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi oleh “wanita terbaik”: “Wanita yang terbaik adalah, apabila kamu (suami) memandanganya, ia terlihat menarik, apabila kamu memerintahkan sesuatu ia mentaatinya, apabila kamu tidak ada disampingnya ia tetap menjaga hak milikmu dan kehormatan dirinya”. (Hadits syarief). Berdasarkan ini maka wanita seyogyanya melakukan berbagai upaya untuk bisa tampil menarik dan cantik, berhias bresolek, langsing, suci, bersih, sehat, wangi, serta berpakaian indah dan menawan. Tentang fungsi pakaian ini Rasulullah SAW pernah bersabda: “ Barangsiapa yang memakai pakaianbaru (sebaiknya) kemudian berkata: segala puhi bagi Allah Zat yang dapat menutupi auratku memperindah dan mempercantik hidupku dst..(HR Bukhari).

Cantik: Tanpa Ketimpangan dan Penyimpangan

Agama mendorong tiap wanita tampil cantik, suci, bersih, dan indah. Bahkan sekalipun harus mengorbankan biaya, waktu dan tenaga untuk meraih penampilan prima, misalnya, merawat kecantikan wajahnya dan kelangsingan tubuhnya. Para suami juga sepatutnya memberikan konstribusi & support bagi upaya tersebut. upaya meraih kecantikan, kesucian, kebersihan dan keindahan tubuh ini dinilai cukup strategis dalam membangun rasa cinta (mawaddah) dan saling suka & sayang (rahmah) dalam bahtera rumah tangga.

Namun catatan sangat penting yang harus diingat adalah jangan ada KETIMPANGAN dan PENYIMPANGAN dalam membangun tatanan indah dari cantik tersebut. jangan ada ketimpangan. Wanita jangan hanya fokus pada upaya maksimal meraih kecantikan fisik atau lahiriah saja. Namun bangunlah hati, jiwa, akal & panca indera yang juga cantik & indah dalam salon & klinik kecantikan ilahi melalui iman & taqwa sehari-hari.

Pancarannya akan tampil dalam bentuk iman dan pekerti yang mulia.

Jangan juga ada penyimpangan. Motif dan persfektif membangun kecantikan, kesucian, kebersihan dan keindahan harus ditujukan & diarahkan bagi para stakeholders utama, pihak yang secara agama nejadi subjek utama pemangku kepentingan, yang diberikan hak khusus oleh Allah SWT untuk merasakan & menikmatinya, yaitu suami, anak-anak dan keluarga tercinta di rumah. Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: