Hj Connie Utari: Tinggalkan Karir Demi Keluarga

Cita-citanya sejak muda tidak terlalu muluk, hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Karirnya yang menjanjikan sebagai Sekretaris Direktur Utama, Asuransi Takaful di Jakarta, ia tinggalkan demi menjadi ibu rumah tangga yang baik mengurusi suami dan membesarkan anak-anaknya.

Hj. Connie Utari yang pernah bekerja sebagai customer service Bank Muamalat Cabang Bandung mengaku sulit membagi waktu sebagai wanita karir, antara keluarga dan pekerjaan.

Akhirnya ketika lahir anak kedua dan setelah berdiskusi dengan suaminya, KH. Mohamad Hidayat , ia memutuskan untuk tinggal di rumah dan menjadi asisten.

“Itu merupakan keputusan yang tepat. Ketika memutuskan berhenti dari pekerjaan ternyata menjadi ibu rumah tangga pekerjaannya malah menjadi lebih banyak selama 24 jam,” ujar Hj. Connie Utara, alumni Politeknik ITB (Institut Teknologi Bandung) yang merupakan salah satu lulusan terbaik dengan predikat cumlaude.

Sebagai ibu rumah tangga, Connie menempatkan diri untuk suami sebagai kepala rumah tangga. Karena kesibukan suami yang begitu padat, sebagai pendakwah, dosen, dan sebagainya, Connie pun merangkap sebagai sekretaris pribadinya. Tidak terlalu sulit melaksanakannya, disamping menjalankan sebagai istri otomatis kegiatan suami juga harus tahu, dan apa yang harus ia lakukan untuk kelancaran
karir sang saumi tercinta.

Sementara untuk anak-anak, perhatiannya sebagai orang tua kepada anak sudah merasa cukup. Bahkan ketika suami tidak ada di ruman karena sedang sibuk, seperti bertugas ke luar kota atau ke luar negeri, Connie berperan ganda sebagai kepala rumah tangga juga.

“Hubungan kami, antara anak dan orang tua terbangun dengan baik. Jadi tidak ada hal yang perlu dirisaukan,” katanya.

Saat ini, Connie mengkhususkan diri mendidik dan membesarkan anak-anaknya di rumah. Sejak masih kecil, Connie dan KH. Mohamad Hidayat, suaminya, menempatkan anak-anaknya seperti layaknya orang dewasa dengan di ajak berdiskusi untuk hal sekecil apapun. Anak-anaknya dibiasakan dilibatkan pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan bersama keluarga.

“Kami mengganggap mereka sudah dewasa. Misalnya, ketika menjelang Ramadhan, kami biasanya mengadakan diskusi setelah shalat maghrib. Seperti apa yang akan dilakukan pada bulan Ramadhan, Mereka pun memberi usul apa yang mereka mau. Kami berempat lalu bersepakat untuk membagi tugas, siapa yang membangunkan sahur, menyiapkan makanan, atau tarawih keliling,” terangnya.

Adapun mengenai sanksi, mereka bicarakan juga dengan menanamkan norma-norma apa yang mereka lakukan ketika mereka melanggar, sanksinya seperti apa. Tidak langsung diberi sanksi tegas, tapi secara bertahap. Anak ditanya kenapa melakukan itu dan apa motivasinya. “Bila masuk akal kita beri sanksi sesuai dengan kesalahan yang mereka buat,” kata Connie.

Connie berharap anak-anaknya bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Bisa mengambil keputusan mana yang baik dan benar. Karena tanggungg jawab di sini mereka berbuat baik tidak karena dilihat sama orang tuanya, tetapi tanggung jawab yang besar adalah kepada Allah SWT. (bersambung)

 

Husnie 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: