Berhutang Untuk Melaksanakan Ibadah Haji

Pertanyaan :
Assalamu alaikum wr wb.
Pak Kyai yang saya muliakan, sehubungan dengan datangnya bulan Zulhijjah di mana kaum muslimin diwajibkan menunaikan rukun Islam yang ke lima. bolehkah jika saya berhaji dengan cara berhutang karena tidak mempunyai uang atau ongkos sejumlah Biaya Perjalanan Haji (BPH) ?

Anisa, Surabaya


Jawaban :

Pada prinsipnya, kewajiban ibadah haji diwajibkan oleh Allah SWT sekali seumur hidup atas orang Islam akil baligh dan istitho`ah (berkemampuan). Unsur-unsur isthitho`ah ini meliputi adanya biaya/dana keberangkatan, perbekalan, dana nafkah keluarga, kesehatan dan kemampuan pisik, serta keadaan perjalanan haji yang aman. Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran 3 : 97 : ” … Menunaikan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang isthithoah (kesanggupan) mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam itu”. Berdasarkan ayat ini mereka yang tidak memiliki kecukupan harta sebagaimana disebutkan di atas, tidak diwajibkan untuk berhaji.

Kita dapat mengutip keterangan dalam Al Qur’an al Kariim mengenai tidak diwajibkannya berjihad bagi mereka yang tidak memiliki kermampuan : ”Tidaklah berdosa atas mereka yang lemah, atas mereka yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tidak pula berdosa atas orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ’Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ niscaya mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan”. (QS At Taubah; 91-92)

Dari dua ayat 91-92 di surah At Taubah dan ayat 97 surah Ali Imran di atas, kita dapat mengetahui bahwa berjihad atau berjuang di jalan Allah tidak diwajibkan bagi orang yang tidak memiliki kemampuan. Menurut pendapat para ahli fiqih, berhaji dapat dikiaskan dengan jihad, maka dengan demikian tidak diwajibkan untuk berhaji kecuali jika seseorang memiliki kemampuan, termasuk kecukupan dana untuk biaya keberangkatan dan nafkah setiap hari ketika berada di sana. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa, ia mengatakan: ”Saya menanyakan pada Rasulullah SAW tentang orang yang tidak berhaji, bolehkan berhutang (meminta pinjaman) bagi orang yang akan berhaji? Nabi menjawab: Tidak boleh. (Hadits)

Dalam kitab Al Muhadzdzab dijelaskan seseorang yang berharta tetapi mempunyai hutang maka yang harus segera dibayarkan adalah hutangnya, baik hutang itu harus dibayar cepat atau lambat, bukan membayar biaya perjalanan haji (BPH). Jika saldo dananya masih cukup besar untuk membayar BPH, untuk biaya perjalanan, dan untuk nafaqah keluarga, maka barulah ia wajib berhaji. Haji harus atau wajib dilaksanakan dengan perasaan ikhlas dan bersih, diantaranya dengan membayarkan hutangnya kepada pihak lain.

Bahkan jika seseorang memiliki harta namun ia sangar memerlukan harta itu sebagai modal untuk berdagang dengan tujuan agar nantinya bisa menutupi biaya perjalanan haji dan nafkah keluarga yang ditinggalkan, maka baginya dapat menunda pembayaran biaya perjalanan hajinya (BPH). Begitu pula jika misalnya dana itu diperlukan untuk membeli rumah untuk ditempati, atau membayar seorang pelayan yang akan membantunya, atau sebagai mahar bagi wanita yang akan dijadikan isterinya, maka terhadap kebutuhan-kebutuhan tersebut ia dapat memenuhinya terlebih dahulu, dan masih tidak diwajibkan untuk berhaji. Ringkasnya, ia dapat memenuhi kebutuhan primernya (al haajah ad dlaruriyyah) dulu sebelum berhaji.

Adapun hadist yang menyatakan, Allah mengganti dan memberkahi dana yang dikeluarkan untuk beribadah haji, maka maksud hadis tersebut tentunya adalah BPH dan biaya hidup selama berhaji yang dikeluarkan secara benar, bukan dengan jalan memaksakan diri, mengambil dan atau menunda hak orang lain, ataupun dengan cara berhutang. Berhutang untuk menunaikan ibadah haji bukanlah cara yang sesuai syariah Islam. Ia bukanlah jalan yang termasuk katagori lil haajah (karena kebutuhan) ataupun lid dharuroh (karena kondisi darurat) sebagaimana yang diajarkan dalam Ushul Fiqh. Wallahu A`lam.

 

 

KH. Mohamaf Hidayat 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: