Islam Mendorong Manusia Untuk Produktif

Oleh: Drs KH Mohamad Hidayat MBA MM
Mencari rezeki yang halal merupakan amal yang paling mulia dan terhormat meskipun hanya memotong kayu dan menjualnya

SEJAK turunnya Adam dan Hawa ke dunia, masalah besar yang harus dipecahkan adalah, bagaimana memenuhi kebutuhan hidup dan, seseorang tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya secara sendirian.
Kemudian, seiring bertambahnya populasi dan bertambah luas pergaulan manusia, maka bertambahlah ketergantungan manusia satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan itu. Maka, wajarlah Islam sangat mendorong agar manusia produktif, melakukan aktivitas ekonomi yang sesuai kebutuhan masyarakat, dan melarang umat mengemis atau meminta-minta.

Dalam suatu hadits riwayat Anas bin Malik, diceritakan seorang sahabat dari kaum Anshar pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW, untuk meminta sesuatu, lalu terjadilah percakapan sebagai berikut:

“Apakah masih ada sesuatu (yang kamu miliki) di rumahmu ?” “Ada, Ya rasulullah. Barang yang masih ada hanyalah bekas kain pelana yang sebagian kami pakai, dan sebagian lagi untuk tempat duduk, juga satu lagi mangkuk buat minum.” “Pergilah ! ambil dan bawa keduanya ke sini !”

Lelaki Anshar itu berangkat dan mengambil barang-barang miliknya tersebut, lalu menyerahkannya kepada Nabi. Nabi lalu menghampiri keramaian orang, kemudian menjual barang-barang tersebut secara lelang di tengah orang banyak.

“Siapa yang mau membeli barang ini?” “Saya mengambilnya dengan harga satu dirham.” “Siapa yang berani melebihinya?” Nabi SAW mengulangi pertanyaan itu tiga kali. “Saya mau mengambilnya dengan harga dua dirham,” jawab yang lain. Maka diberikanlah barang itu kepada si pembeli.

Kemudian Nabi menyerahkan yang itu kepada laki-laki Anshar itu, lalu beliau bersabda kepadanya, “Separuh uang ini kamu belikan makanan untuk keluargamu di rumah dan separuhnya lagi kamu belikan kapak dan bawalah kepadaku di sini.”

Sahabat dari Anshar itupun segera memenuhi permintaan Nabi SAW, kemudian dia kembali ke hadapan Nabi dengan membawa kapak yang baru dibelinya. Nabi menyambutnya dengan memegang erat tangannya dan menyerahkan sebatang kayu ke tangannya, sambil bersabda,

“Berangkatkah engkau sekarang mencari dan menebang kayu, kemudian menjualnya (lanjut hadits di atas) janganlah kamu menjumpaiku dalam waktu lima belas hari !” Laki-laki nitu pergi ke bukit untuk mencari kayu kemudian menjualnya.

Sesudah lima belas hari, dia datang kembali kepada Nabi SAW, dan tangannya menggennggam yang sebanyak sepuluh dirham, sebagian uang itu dibelikan pakaian, sebagian lagi untuk makanan, sedangkan sisanya disimpannya untuk menjadi modal selanjutnya.

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya: “Perbuatan ini lebih baik bagimu daripada kamu hidup mengemis dan meminta-minta, yang nantinya akan menjadikan cacat mukamu pada hari kiamat. Sesungguhnya meminta-minta tidak dibolehkan, kecuali pada tiga saat genting: pada saat kemiskinan (kelaparan) yang sangat, pada saat kesulitan utang yang sangat memberatkan, atau karena pembayaran denda yang menyedihkan.” (Hadits ini dirawayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan).

Yusuf Qardhawi memberikan komentarnya atas hadits tersebut sebagai berikut: “Di dalam Hadits yang amat tegas ini, kita memeroleh keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara, tidak bersedia memberikan harta (negara) dari zakat kepada laki-laki Anshar yang datang meminta-minta kepadanya, karena badannya masih kuat untuk berusaha.

Kecuali kalau segala jalan sudah sempit bagi hidupnya, dan segala usaha sudah tertutup, maka pihak penguasa harus membantunya dengan memberikan kesempatan untuk mencari usaha yang halal dan membuka pintu untuk bekerja di hadapannya. Hadits ini menyiratkan beberapa langkah maju dalam Islam, mendahului segala sistem (ekonomi) yang belum dikenal oleh kemanusiaan, kecuali sesudah berabad-abad kemudian, sesudah munculnya Islam.

Sesungguhnya Islam tidaklah mengobati persoalan kebutuhan si peminta itu dengan memberikan bantuan konsumtif, yang hanya bersifat sementara, sebagaimana jalan pikiran kebanyakan orang. Dia tidak pula hanya melegakan perasaan orang itu hanya dengan nasihat-nasihat dan mencegahnya untuk tidak meminta-meminta lagi tetapi membimbing tangan si pengemis itu suoaya mencoba menyelesaikannya sendiri kesukaran hidupnya dengan menunjukkan obat yang amat mujarab.

Diajarkannya kepada lelaki itu supaya menggunakan segala kesanggupanya, dan produktifkan milik yang ada, walauoun sedikit, selama masih ada kekuatan memanfaatkannya demi meringankan kebutuhan hidupnya. Mencari rezeki yang halal merupakan amal yang paling mulia dan terhormat meskipun hanya dengan memotong kayu dan menjualnya.

Nabi Muhammad SAW menunjukkan pekerjaan yang sesuai dengan kesannggupan seseorang, keadaan setempat, serta alat yang tepat untuk bekerja sehingga feasible (layak) dilaksanakan. Diberinya pula waktu 15 hari untuk menggunakan kesempatan yang cukup supaya memenuhi kebutuhan hidupnya, hingga akhirnya dia memutuskan apakah dia tetap dalam pekerjaannya atauhkah dia mencari usaha yang lainnya.

Sesudah memberikan arahan yang praktis bagi penyelesaian persoalannya, diberinya pula pekerjaan yang teoritis dalam bahasa yang pendek, tetapi berisi untuk melarang dan mencegahnya dari hidup mengemis dan meminta-minta. Selanjutnya, beliau menegaskan batas-batas (saat-saat) yang dibolehkan meminta bantuan, yaitu pada waktu kemiskinan yang sangat, utang yang melilit pinggang, atau pembayaran denda yang menyedihkan.”

Demikianlah komentar yang panjang lebar dari Yusuf Qardhawi terhadap hadits tersebut. Komentar tersebut dikahiri dengan satu seruan, “Alangkah bahagianya kala kita pemeluk Islam dan pengikut Nabi, mempraktikan ajaran Nabi yang sangat bernilai tinggi tersebut.”

Ukuran iman seorang muslim tidaklah hanya terletak pada ibadah ritual (mahdlah) belaka. Tetapi juga pada kwalitas muamalahnya, yakni aturan yang meliputi hubungan manusia dalam segala kebutuhan, baik bersifat pribadi, masyarakat dan bernegara. Nabi Muhammad SAW menjadikan nilai muamalah seseorang juga sebagai ukuran keimanan. Wallahu a’lam bishawab. (P) *)

Ketua Umum Yayasan Majelis Al Washiyyah dan anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Pusat.

http://pelitaonline.com/opinions/islam-mendorong-manusia-untuk-produktif#.UfAoOr36KEY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: