Darurat: Mencegah Kematian/Kerusakan Parah untuk Sementara dan Tidak Berlebihan

Ceramah KH Mohamad Hidayat di Masjid At Taubah hari Minggu 30 September 2012 (ba’da Maghrib) membahas masalah Darurat.

Saat Darurat, maka apa yang Haram, menjadi Halal untuk dilakukan. Meski demikian, kita harus memahami kondisi darurat itu apa saja. Ini agar tidak terjebak melakukan hal yang haram, padahal kondisi sebetulnya tidak darurat.

Sesuatu disebut Darurat jika bisa menimbulkan kematian, atau jika sakit parah bisa bertambah parah. Dalilnya:

“..janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” [Al Baqarah:195]

Tapi jika tidak menimbulkan kematian atau tidak menambah parah satu keadaan, maka itu bukan darurat.

Contoh darurat, segala makanan yang haram, jadi halal saat kita kelaparan dan mati jika tidak memakannya:

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Baqarah 173]

Darurat juga dibatasi oleh waktu. Misalnya kita haram membuka aurat. Tapi saat kita disunat, mau tidak mau maka aurat kita harus dibuka agar bisa disunat. Itu pun dibukanya saat akan disunat di ruangan sunat. Bukan saat menunggu di ruang tunggu, auratnya sudah dibuka.

Pada saat darurat, kita juga tidak boleh berlebihan. Misalnya saat akan disuntik, cukup bagian yang disuntik saja yang dibuka. Misalnya (maaf) pantat. Tidak perlu bagian depannya juga dibuka.

“…Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al A’raaf 31] 

Seorang wanita pun hendaknya berobat ke Dokter Wanita. Bukan Dokter Pria. Jikalau memang tidak ada dokter wanita, maka suaminya harus menemaninya agar tidak terjadi fitnah. Ini pun jika kondisinya memang benar-benar darurat.

Patut dipahami kondisi darurat adalah kondisi yang tidak normal yang harusnya cuma sementara. Jadi saat keadaan sudah kembali normal, maka hal-hal yang haram tidak boleh dilakukan lagi.

Contohnya aurat pria itu dari pusar hingga lutut. Nah kira-kira orang yang main bola atau futsal dengan celana pendek sepaha itu darurat apa tidak?

Sumber:

Dari ceramah KH Mohammad Hidayat dengan sedikit penambahan (mis: Dalil Al Qur’an) dan perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: